Nama : Bayu prismantara
NPM : 11213670
Kelas : 3EA15
Teori Perilaku Konsumen
PERILAKU KONSUMEN
DEFINISI PERILAKU KONSUMEN
Perilaku
konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang/ organisasi dalam
mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk atau
jasa setelah dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. Perilaku konsumen
akan diperlihatkan dalam beberapa tahap yaitu tahap sebelum pembelian,
pembelian, dan setelah pembelian. Pada tahap sebelum pembelian konsumen
akan melakukan pencarian informasi yang terkait produk dan jasa. Pada
tahap pembelian, konsumen akan melakukan pembelian produk, dan pada
tahap setelah pembelian, konsumen melakukan konsumsi (penggunaan
produk), evaluasi kinerja produk, dan akhirnya membuang produk setelah
digunakan.Atau kegiatan-kegiatan
individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan
menggunakan barang dan jasa termasuk di dalamnya proses pengambilan
keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.
Konsumen
dapat merupakan seorang individu ataupun organisasi, mereka memiliki
peran yang berbeda dalam perilaku konsumsi, mereka mungkin berperan
sebagai initiator, influencer, buyer, payer atau user.
Dalam
upaya untuk lebih memahami konsumennya sehingga dapat memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen, perusahaan dapat menggolongkan
konsumennya ke dalam kelompok yang memiliki kemiripan tertentu, yaitu
pengelompokan menurut geografi, demografi, psikografi, dan perilaku.
Perilaku konsumen mempelajari di mana, dalam kondisi macam apa, dan bagaimana kebiasaan seseorang membeli produk tertentu dengan merk tertentu. Kesemuanya ini sangat membantu manajer pemasaran di dalam menyusun kebijaksanaan pemasaran perusahaan. Proses pengambilan keputusan pembelian suatu barang atau jasa akan melibatkan berbagai pihak, sesuai dengan peran masing-masing.
Peran yang dilakukan tersebut adalah: (1) Initiator, adalah individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu; (2) Influencer, adalah individu yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Informasi mengenai kriteria yang diberikan akan dipertimbangkan baik secara sengaja atau tidak; (3) Decider, adalah yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya; (4) Buyer, adalah individu yang melakukan transaksi pembelian sesungguhnya; (5) User, yaitu individu yang mempergunakan produk atau jasa yang dibeli.
Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan pembelian terhadap suatu produk. Manajemen perlu mempelajari faktor-faktor tersebut agar program pemasarannya dapat lebih berhasil. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor ekonomi, psikologis, sosiologis dan antropologis.
Alasan mengapa seseorang membeli produk tertentu atau alasan mengapa membeli pada penjual tertentu akan merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan desain produk, harga, saluran distribusi, dan program promosi yang efektif, serta beberapa aspek lain dari program pemasaran perusahaan.
Adapun beberapa teori perilaku konsumen adalah sebagai berikut:
(1) Teori Ekonomi Mikro. Teori ini beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimal. Mereka akan berupaya meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk apabila memperoleh kepuasan dari produk yang telah dikonsumsinya, di mana kepuasan ini sebanding atau lebih besar dengan marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk beberapa produk yang lain;
(2) Teori Psikologis. Teori
ini mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang
dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Bidang psikologis ini
sangat kompleks dalam menganalisa perilaku konsumen, karena proses
mental tidak dapat diamati secara langsung;
(3)
Teori Antropologis. Teori ini juga menekankan perilaku pembelian dari
suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti
kebudayaan, kelas-kelas sosial dan sebagainya.
Pengertian
Pemasaran menurut Stanton adalah suatu sistem keseluruhan dari
kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan
harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa untuk
memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli
potensial (Stanton, 1997).
Pengertian
pemasaran menurut Kotler (2000: 8), pemasaran adalah proses sosial dan
manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka
butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan
produk dengan pihak lain. Dalam hal ini pemasaran merupakan proses
pertemuan antara individu dan kelompok dimana masing-masing pihak ingin
mendapatkan apa yang mereka butuhkan/inginkan melalui tahap menciptakan,
menawarkan, dan pertukaran.
Definisi pemasaran tersebut berdasarkan pada prinsip inti yang meliputi: kebutuhan (needs), produk (goods, services and idea), permintaan (demands), nilai, biaya, kepuasan, pertukaran, transaksi, hubungan, dan jaringan, pasar, pemasar, serta prospek.
Definisi pemasaran tersebut berdasarkan pada prinsip inti yang meliputi: kebutuhan (needs), produk (goods, services and idea), permintaan (demands), nilai, biaya, kepuasan, pertukaran, transaksi, hubungan, dan jaringan, pasar, pemasar, serta prospek.
Sumber : http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2009/12/makalah-pengertian-pemasaran-dan.html
Riset Pemasaran
Studi
tentang perilaku konsumen juga tidak terlepas pada masalah riset
pemasaran. Riset pemasaran adalah salah satu perangkat dalam Sistem
Informasi Manajemen (SIM), yang melakukan pengumpulan informasi tentang
sikap, motivasi, keinginan, dan hal-hal lainnya tentang konsumen. Dapat
di lihat dari pengertiannya sebagai berikut :
· Motivasi
Motivasi
sebagai tenaga dorong dalam diri individu yang memaksa mereka untuk
bertindak, yang timbul sebagai akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan. Kebutuhan
sendiri muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan (state of
tension) antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya
dirasakan.
Untuk
memahami kebutuhan manusia, Teori Maslow dan McClelland menggambarkan
bahwa manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang berbeda sehingga hal ini
dapat digunakan pemasar untuk mendorong konsumsi suatu produk dan atau
jasa.
· Persepsi
Persepsi
didefinisikan sebagai proses yang dilakukan individu untuk memilih,
mengatur, dan menafsirkan stimuli ke dalam gambar yang berarti dan masuk
akal mengenai dunia, yaitu proses “bagaimana kita melihat dunia di
sekeliling kita”. Stimuli ini diterima oleh alat pancaindra manusia.
Stimuli mana yang akan diproses tergantung dari apakah stimuli dapat
masuk ke dalam proses untuk menginterpretasikannya. Untuk dapat masuk ke
dalam proses interpretasi suatu stimuli harus mampu mengekspos manusia
(mendapat perhatian) melalui indra penerimaan, artinya harus
diperhatikan ambang penerimaan stimuli manusia. Setelah stimuli diterima
maka proses interpretasi dapat dilakukan yang terkait dengan faktor
individu
· Sikap
Terdapat
beberapa pengertian sikap yang disampaikan oleh para ahli. Intinya
sikap adalah perasaan dari konsumen (positif dan negatif) dari suatu
objek setelah dia mengevaluasi objek tersebut. Semakin banyak objek yang
dievaluasi akan semakin banyak sikap yang terbentuk.
Sikap
memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi penyesuaian, ego defensive,
ekspresi nilai, dan pengetahuan. Untuk lebih memahami sikap perlu
dipahami beberapa karakteristik sikap, diantaranya memiliki objek,
konsisten, intensitas dan dapat dipelajari.
· Model dan Teori Sikap
Perkembangan
teori tentang sikap sudah sangat maju. Sikap juga dapat digambarkan
dalam bentuk model. Model tradisional menggambarkan pengaruh informasi
dari lingkungan luar pribadi seseorang, di mana informasi tersebut akan
diolah dengan menggunakan elemen internal dari seseorang, untuk
menghasilkan sikap terhadap objek. Model analisis konsumen menyebutkan
bahwa sikap terdiri dari komponen perasaan (affect) dan kognitif,
perilaku, serta lingkungan. Model tiga komponen dan model ABC menyatakan
bahwa sikap konsumen dibentuk oleh faktor kognitif, afektif, dan
konatif (perilaku atau kecenderungan untuk berperilaku). Teori
kongruitas menggambarkan pengaruh antara dua jenis objek, di mana
kekuatan satu sama lain dapat saling mempengaruhi persepsi konsumen. Dan
model terakhir adalah model Fishbein yang merupakan kombinasi dari
kepercayaan objek terkait dengan atribut dan intensitas dari kepercayaan
tersebut. Model Fishbein ini kemudian dimodifikasi dengan menambahkan
bahwa perilaku dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku dan norma
subjektif.
· Pembentukan Sikap
Sikap
yang terbentuk biasanya didapatkan dari pengetahuan yang berbentuk
pengalaman pribadi. Sikap juga dapat terbentuk berdasarkan informasi
yang diterima dari orang lain, yang memiliki pengaruh. Kelompok juga
menjadi sumber pembentukan sikap yang cukup berpengaruh.
· Perubahan Sikap
Strategi
perubahan sikap dapat dilakukan baik terhadap produk dengan
keterlibatan tinggi, maupun untuk produk dengan tingkat keterlibatan
rendah. Usaha mengarahkan audiens untuk produk dengan keterlibatan
rendah ditempuh dengan mentransformasi situasi ke arah keterlibatan
konsumen yang tinggi. Adapun strategi perubahan sikap konsumen terhadap
produk atau jasa tertentu dilakukan dengan menggunakan saluran
komunikasi persuasif, yang mengikuti alur proses komunikasi yang
efektif. Pemasar harus mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan
mengoptimalkan penggunaan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dan
dapat menyebabkan perubahan sikap dari penerima pesan atau konsumen.
Faktor sumber, pesan, dan penerima pesan dapat digunakan secara optimal
untuk menghasilkan perubahan sikap dan tentunya perubahan perilaku
positif dari konsumen yang diharapkan oleh pemasar. Kredibilitas dari
sumber pesan menjadi fokus dari komunikasi persuasif. Dalam mengelola
pesan, yang harus diperhatikan adalah struktur, urutan, dan makna yang
terkandung dalam pesan. Karakteristik dari penerima pesan, yang meliputi
kepribadian, mood, dan jenis kepercayaan yang dimiliki juga menjadi
faktor penentu keberhasilan komunikasi persuasif.
· Kepribadian
Konsep
kepribadian (personality) dibahas secara teoretis oleh para pakar
melalui berbagai sudut pandang yang beraneka ragam, diantaranya
menekankan pembahasan kepribadian pada pengaruh sosial dan lingkungan
terhadap pembentukan kepribadian secara kontinu dari waktu ke waktu,
serta menekankan pada pengaruh faktor keturunan dan pengalaman di awal
masa kecil terhadap pembentukan kepribadian.
Tiga
karakteristik yang perlu dibahas dalam pembahasan mengenai kepribadian
adalah kepribadian mencerminkan perbedaan antarindividu, kepribadian
bersifat konsisten dan berkelanjutan, dan kepribadian dapat mengalami
perubahan.
Dalam
mempelajari kaitan antara kepribadian dan perilaku konsumen, 3 teori
kepribadian yang sering digunakan sebagai acuan adalah teori Freudian,
Neo Freudian dan teori traits.
· Konsep Diri
Konsep
diri adalah bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri yang
kadang-kadang akan berbeda dari pandangan orang lain. Konsep diri
konsumen terbagi ke dalam 4 dimensi, yaitu bagaimana mereka sesungguhnya
melihat dirinya sendiri, bagaimana mereka ingin melihat diri mereka
sendiri, bagaimana sesungguhnya orang lain melihat diri mereka, dan
bagaimana mereka ingin orang lain melihat diri mereka.
Bagaimana
konsumen memandang diri mereka dapat menjadi dorongan yang kuat pada
perilaku mereka di pasar sehingga pemasar dapat menggunakan konsep diri
ini dalam merancang strategi pemasaran, misalnya dalam menciptakan merek
atau produk baru.
Extended
self merujuk pada kecenderungan seseorang untuk mendefinisikan dirinya
sendiri berdasarkan kepemilikannya (possession). Kepemilikan yang
dimaksud di sini tidak harus sesuatu yang besar, seperti rumah atau
mobil, tetapi dapat berupa benda-benda kecil, seperti pigura. Penelitian
memperlihatkan, konsumen cenderung untuk memilih produk atau merek yang
sesuai dengan dirinya atau dengan apa yang ingin dicapainya sebagai
manusia. Lebih banyak wanita daripada pria yang menganggap bahwa produk
yang mereka gunakan mencerminkan kepribadiannya sendiri.
Pemasar
sebaiknya mengembangkan citra produk sedemikian rupa sehingga sesuai
dengan konsep diri yang dianut oleh konsumen. Meskipun konsep diri yang
dimiliki seseorang bersifat sangat unik, ada kemungkinan konsep diri
antar individu memiliki beberapa kemiripan.
· Gaya Hidup
Gaya
hidup merupakan pola hidup yang menentukan bagaimana seseorang memilih
untuk menggunakan waktu, uang dan energi dan merefleksikan nilai-nilai,
rasa, dan kesukaan. Gaya hidup adalah bagaimana seseorang menjalankan
apa yang menjadi konsep dirinya yang ditentukan oleh karakteristik
individu yang terbangun dan terbentuk sejak lahir dan seiring dengan
berlangsungnya interaksi sosial selama mereka menjalani siklus
kehidupan.
Konsep
gaya hidup konsumen sedikit berbeda dari kepribadian. Gaya hidup
terkait dengan bagaimana seseorang hidup, bagaimana menggunakan uangnya
dan bagaimana mengalokasikan waktu mereka. Kepribadian menggambarkan
konsumen lebih kepada perspektif internal, yang memperlihatkan
karakteristik pola berpikir, perasaan dan persepsi mereka terhadap
sesuatu.
Gaya
hidup yang diinginkan oleh seseorang mempengaruhi perilaku pembelian
yang ada dalam dirinya, dan selanjutnya akan mempengaruhi atau bahkan
mengubah gaya hidup individu tersebut.
Berbagai
faktor dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang diantaranya demografi,
kepribadian, kelas sosial, daur hidup dalam rumah tangga. Kasali (1998)
menyampaikan beberapa perubahan demografi Indonesia di masa depan, yaitu
penduduk akan lebih terkonsentrasi di perkotaan, usia akan semakin tua,
melemahnya pertumbuhan penduduk, berkurangnya orang muda, jumlah
anggota keluarga berkurang, pria akan lebih banyak, semakin banyak
wanita yang bekerja, penghasilan keluarga meningkat, orang kaya
bertambah banyak, dan pulau Jawa tetap terpadat.
· Psikografi
Psikografi
adalah variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur gaya hidup.
Bahkan sering kali istilah psikografi dan gaya hidup digunakan secara
bergantian. Beberapa variabel psikografi adalah sikap, nilai, aktivitas,
minat, opini, dan demografi. Analisis terhadap variabel-variabel
psikografis telah banyak membantu pemasar untuk mengelompokkan konsumen
berdasarkan kesamaan tertentu. Hal ini akan membantu penetapan strategi
pemasaran agar sesuai dengan target konsumen.
Pengukuran
psikografi dapat dilakukan dalam tingkat kespesifikan yang
berbeda-beda. Pada satu sisi ekstrem terdapat pengukuran yang bersifat
umum yang menyangkut cara-cara umum dalam menjalani kehidupan. Pada satu
sisi ekstrem lainnya adalah pengukuran terhadap variabel secara
spesifik.
Kelompok
merupakan kumpulan individu-individu yang saling berinteraksi antara
satu dengan yang lainnya selama periode waktu tertentu untuk suatu
kebutuhan atau tujuan bersama.
Untuk
dapat memahami karakteristik kelompok, perlu dipahami beberapa hal yang
terkait dengan kelompok, yaitu status, norma, peran, sosialisasi, dan
kekuasaan yang ada di dalam kelompok.
Kekuasaan
yang mempengaruhi kelompok ini dapat mempengaruhi perilaku anggotanya,
diantaranya kekuasaan karena pemberian penghargaan/hadiah (reward
power), kekuasaan karena paksaan melalui hukuman/sangsi (coercive
power), kekuasaan yang sah (legitimate power), kekuasaan karena keahlian
(expert power), dan kekuasaan karena perasaan/keinginan untuk menjadi
anggota kelompok (referent power).
· Pengaruh Kelompok terhadap Perilaku Konsumen
Kelompok
referensi/acuan adalah individu/kelompok nyata atau khayalan yang
memiliki pengaruh evaluasi, aspirasi, bahkan perilaku terhadap orang
lain. Kelompok acuan (yang paling berpengaruh terhadap konsumen)
mempengaruhi orang lain melalui norma, informasi, dan melalui kebutuhan
nilai ekspresif konsumen.
Pemasar
harus dapat mengidentifikasi peran seseorang di dalam kelompoknya dalam
pengambilan keputusan, dan harus menekankan pada si pengambil
keputusan. Penyesuaian dilakukan hanya untuk sekadar menyesuaikan diri
agar diterima oleh kelompok atau penyesuaian yang mengubah kepercayaan.
Orang butuh untuk menilai opini dan kemampuan mereka dengan
membandingkannya dengan opini dan kemampuan orang lain. Dalam polarisasi
kelompok, perbedaan pandangan antara kelompok dengan individu, dan
kelompok dapat berubah pandangannya dikarenakan informasi dan budaya
yang ada.
Kelompok
acuan dapat berbentuk organisasi formal yang besar, terstruktur dengan
baik, memiliki jadwal pertemuan rutin, dan karyawan-karyawan yang tetap.
Di lain pihak, kelompok acuan juga dapat berbentuk kelompok kecil dan
informal. Kelompok acuan terdiri dari orang-orang yang dikenal secara
mendalam (seperti keluarga atau sahabat) atau orang-orang yang dikenal
tanpa ada hubungan yang mendalam (klien) atau orang-orang yang dikagumi
(tokoh atau artis). Karena orang cenderung membandingkan dirinya dengan
orang lain yang memiliki kemiripan, mereka sering kali terpengaruh
dengan mengetahui bagaimana orang lain menginginkan mereka menjalani
hidup.
Kecenderungan
orang untuk menjadi bagian dari kelompok acuan dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya adalah keakraban, ekspos terhadap seseorang
(Mere Exposure), dan kepaduan kelompok.
Terdapat
beberapa bentuk kelompok acuan yang dapat mempengaruhi konsumen dalam
perilaku konsumsi, yaitu kelompok pertemanan, kelompok belanja, kelompok
kerja, komunitas maya dan kelompok aksi konsumen.
Seorang
pemberi opini ini adalah orang yang sering kali mampu mempengaruhi
sikap atau perilaku orang lain. Opinion leader memiliki sumber informasi
yang berharga. Yang biasanya menjadi opinion leader adalah artis, ahli
atau pakar di bidang tertentu, orang awam (biasa), pimpinan perusahaan,
dan karakter
· Keluarga
Rumah
tangga (a household) terdiri dari anggota yang terkait dengan keluarga
(family) dan semua orang-orang yang tidak terkait yang berada dalam
suatu unit tempat tinggal (baik itu rumah, apartemen, kelompok
kamar-kamar, dan lain-lain). Rumah tangga dapat terdiri dari dua jenis/
bentuk: keluarga (families) dan non-keluarga (non families).
Suatu
keluarga mungkin merupakan suatu keluarga patriat (patriarchal family),
di mana sang ayah dipertimbangkan sebagai anggota yang paling dominan,
sedangkan dalam suatu keluarga matriat (matriarchal family), pihak
wanita memainkan peran dominan, dan membuat banyak keputusan, sedangkan
dalam equalitarian family, sang suami dan istri membagi secara seimbang
pengambilan keputusan
Keluarga
memiliki struktur sendiri, seperti juga yang terjadi pada masyarakat,
di mana setiap anggota memainkan perannya masing-masing. Bagi pemasar
adalah penting untuk membedakan peran setiap anggota keluarga dalam
tujuan untuk mengoptimalkan strategi pemasaran. Asumsi yang dibuat
mengenai peran-peran pembelian harus dicek melalui riset konsumen
sehingga pemasar dapat membuat bauran pemasaran yang tepat ditujukan
terhadap individu yang tepat.
Konsep
siklus hidup keluarga atau rumah tangga telah terbukti sangat
bermanfaat bagi pemasar, khususnya untuk aktivitas dari
keluarga-keluarga seiring dengan berjalannya waktu. Dengan adanya konsep
siklus hidup, pemasar mampu mengapresiasi kebutuhan keluarga, pembelian
produk, dan sumber daya keuangan bervariasi sepanjang waktu.
Siklus
hidup keluarga modern didasarkan pada usia (dari individu wanita dalam
rumah tangga, jika tepat), yang ditelusuri dalam kelompok-kelompok usia
muda (young), usia menengah (middle aged). Dan kelompok usia lebih tua
(elderly). Usia yang beragam ini dipengaruhi oleh dua bentuk peristiwa
penting, yaitu (1) pernikahan dan pemisahan (baik karena perceraian atau
kematian), dan (2) hadirnya anak pertama dan anak paling akhir.
· Kelas Sosial
Kelas
sosial didefinisikan sebagai pembagian anggota masyarakat ke dalam
suatu hierarki status kelas yang berbeda sehingga para anggota setiap
kelas secara relatif mempunyai status yang sama`dan para anggota kelas
lainnya mempunyai status yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Kategori
kelas sosial biasanya disusun dalam hierarki, yang berkisar dari status
yang rendah sampai yang tinggi. Dengan demikian, para anggota kelas
sosial tertentu merasa para anggota kelas sosial lainnya mempunyai
status yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari pada mereka.
Aspek
hierarkis kelas sosial penting bagi para pemasar. Para konsumen membeli
berbagai produk tertentu karena produk-produk ini disukai oleh anggota
kelas sosial mereka sendiri maupun kelas yang lebih tinggi, dan para
konsumen mungkin menghindari berbagai produk lain karena mereka merasa
produk-produk tersebut adalah produk-produk “kelas yang lebih rendah”.
Pendekatan
yang sistematis untuk mengukur kelas sosial tercakup dalam berbagai
kategori yang luas berikut ini: ukuran subjektif, ukuran reputasi, dan
ukuran objektif dari kelas sosial.
Peneliti
konsumen telah menemukan bukti bahwa di setiap kelas sosial, ada
faktor-faktor gaya hidup tertentu (kepercayaan, sikap, kegiatan, dan
perilaku bersama) yang cenderung membedakan anggota setiap kelas dari
anggota kelas sosial lainnya.
Para
individu dapat berpindah ke atas maupun ke bawah dalam kedudukan kelas
sosial dari kedudukan kelas yang disandang oleh orang tua mereka. Yang
paling umum dipikirkan oleh orang-orang adalah gerakan naik karena
tersedianya pendidikan bebas dan berbagai peluang untuk mengembangkan
dan memajukan diri.
Dengan
mengenal bahwa para individu sering menginginkan gaya hidup dan
barang-barang yang dinikmati para anggota kelas sosial yang lebih tinggi
maka para pemasar sering memasukkan simbol-simbol keanggotaan kelas
yang lebih tinggi, baik sebagai produk maupun sebagai hiasan dalam iklan
yang ditargetkan pada audiens kelas sosial yang lebih rendah.
· Budaya
Dalam
studi tentang budaya kita perlu memperhatikan
karakteristik-karakteristik dari budaya itu sendiri, yaitu budaya itu
ditemukan (invented), budaya dipelajari, budaya diyakini dan
disebarluaskan secara sosial, budaya-budaya itu serupa tapi tidak sama,
budaya itu memuaskan kebutuhan dan diulang-ulang secara konsisten
(persistent), budaya bersifat adaptif, budaya itu terorganisasi dan
terintegrasi, dan budaya itu dasar aturan (prescriptive).
Nilai
adalah ide umum tentang tujuan yang baik dan yang buruk. Dari alur
norma atau aturan yang menjelaskan tentang yang benar atau yang salah,
yang bisa diterima dan yang tidak. Beberapa norma dikatakan sebagai
enacted norms, di mana maksud dari norma tersebut terlihat secara
eksplisit, benar dan salah. Namun, banyak norma lain yang lebih halus,
ini adalah crescive norm yang telah tertanam dalam budaya dan hanya bisa
terlihat melalui interaksi antaranggota dalam budaya.
Nilai-nilai
budaya yang berlaku berbeda di setiap wilayah. Nilai yang berlaku di
suatu Negara belum tentu berlaku di Negara atau bahkan bisa bertolak
belakang dari nilai yang berlaku di Negara lain tersebut. Budaya
mempengaruhi konsumen dalam sudut pandang terhadap dirinya dan orang
lain, dan karenanya mempengaruhinya dalam berperilaku. Oleh karenanya,
budaya sangat mempengaruhi bagaimana konsumen bereaksi atau berperilaku
terhadap produk atau inovasi tertentu
· Subbudaya
Subbudaya
adalah grup budaya dalam cakupan berbeda, yang menggambarkan segmen
yang teridentifikasi dalam masyarakat yang lebih besar atau sebuah
kelompok budaya tertentu yang berbeda yang hadir sebagai sebuah segmen
dalam sebuah masyarakat yang lebih besar dan kompleks.
Analisa
subbudaya memungkinkan manajer pemasaran untuk fokus dalam menentukan
ukuran segmen pasar dan segmen pasar yang lebih natural. Subbudaya yang
penting untuk diperhatikan adalah subbudaya kewarganegaraan, agama,
lokasi geografis, ras, usia dan jenis kelamin (Schiffman dan Kanuk,
2004). Selain ketujuh hal tersebut, kelas sosial juga tergolong sebagai
subbudaya karena kelas sosial akan mempengaruhi perilaku sebagai akibat
dari keanggotaan pada kelas sosial tertentu, termasuk perilaku pada
setiap kelas sosial masyarakat seluruh dunia.
Perusahaan
yang bergerak dalam pasar global memiliki kebutuhan untuk mengembangkan
perencanaan penasaran yang terpisah untuk tiap budaya atau penggunaan
satu perencanaan pemasaran yang bisa diimplementasikan dalam tiap
daerah/negara. Mengadaptasi budaya dari budaya lokal juga merupakan
salah satu cara yang bisa dipertimbangkan.
Tujuan
utama dari analisis konsumen lintas budaya adalah untuk melihat
bagaimana persamaan konsumen dalam dua atau lebih masyarakat, dan
bagaimana perbedaan mereka.
Pengaruh
lintas budaya dan subbudaya dapat berpengaruh terhadap strategi
pemasaran, yang akan dibahas dalam bagian ini lebih pada strategi
segmentasi dan 4P. Khusus terhadap 4P diharapkan dapat diambil dari
pelajaran-pelajaran yang ada dalam kesalahan-kesalahan yang pernah
terjadi, misalnya dalam mendefinisikan produk, promosi, dan penetapan
harga.
· Konsep Dasar Pengambilan Keputusan Konsumen
Dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya, seorang konsumen harus memilih produk
dan/atau jasa yang akan dikonsumsinya. Banyaknya pilihan yang tersedia,
kondisi yang dihadapi, serta pertimbangan-pertimbangan yang mendasari
akan membuat pengambilan keputusan satu individu berbeda dari individu
lainnya. Pada saat seorang konsumen baru akan melakukan pembelian yang
pertama kali akan suatu produk, pertimbangan yang akan mendasarinya akan
berbeda dari pembelian yang telah berulang kali dilakukan.
Pertimbangan-pertimbangan ini dapat diolah oleh konsumen dari sudut
pandang ekonomi, hubungannya dengan orang lain sebagai dampak dari
hubungan sosial, hasil analisa kognitif yang rasional ataupun lebih
kepada ketidakpastian emosi (unsure emosional). menggambarkan bahwa pada
saat mengambil keputusan, semua pertimbangan ini akan dialami oleh
konsumen walaupun perannya akan berbeda-beda di setiap individu
· Proses Pengambilan Keputusan Konsumen
Proses
pengambilan keputusan diawali dengan adanya kebutuhan yang berusaha
untuk dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan ini terkait dengan beberapa
alternatif sehingga perlu dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk
memperoleh alternatif terbaik dari persepsi konsumen. Di dalam proses
membandingkan ini konsumen memerlukan informasi yang jumlah dan tingkat
kepentingannya tergantung dari kebutuhan konsumen serta situasi yang
dihadapinya.
Keputusan
pembelian akan dilakukan dengan menggunakan kaidah menyeimbangkan sisi
positif dengan sisi negatif suatu merek (compensatory decision rule)
ataupun mencari solusi terbaik dari perspektif konsumen
(non-compensatory decision rule), yang setelah konsumsi akan dievaluasi
kembali.
· Model Pengambilan Keputusan Konsumen
Model-model
pengambilan keputusan telah dikembangkan oleh beberapa ahli untuk
memahami bagaimana seorang konsumen mengambil keputusan pembelian.
Model-model pengambilan keputusan kontemporer ini menekankan kepada
aktor yang berperan pada pengambilan keputusan yaitu konsumen, serta
lebih mempertimbangkan aspek psikologi dan sosial individu.
· Konsumerisme
Konsumerisme
adalah suatu gerakan sosial yang dilakukan oleh berbagai pihak yang
bertujuan untuk meningkatkan posisi konsumen dalam berinteraksi dengan
pihak penjual, baik sebelum, pada saat, dan setelah konsumsi dilakukan.
Konsumen perlu mengetahui hak-haknya secara jelas sehingga apabila
terjadi ketidaksesuaian yang dirasakan pada tiga fase tersebut, konsumen
akan dapat mengidentifikasi letak ketidaksesuaiannya, di mana karena
sumber permasalahan dapat berasal dari kecerobohan konsumen itu sendiri.
Perkembangan
teknologi informasi dan era perdagangan bebas memunculkan masalah
konsumerisme baru yang harus diwaspadai oleh berbagai pihak sehingga
dapat mencegah dampak yang merusak bagi konsumen
· Model dan Penelitian terhadap Perilaku Konsumen
Dalam
usaha untuk lebih memahami perilaku konsumen, seorang pemasar akan
melakukan penelitian yang terkait dengan konsumen dan produk yang
dipasarkan. Penelitian ini dilakukan dalam upaya untuk mengumpulkan
informasi mengenai karakteristik perilaku konsumen sehingga seorang
pemasar akan dapat lebih mengenal siapa konsumennya, dan bagaimana
perilaku mereka dalam mencari, menggunakan, dan membuang produk.
Perilaku konsumen sangat kompleks dan melibatkan banyak variabel dalam
analisis sehingga diperlukan model-model perilaku konsumen untuk
menyederhanakan gambaran dan keterkaitan antar variabel tersebut dalam
perilaku konsumen. Dengan berpedoman kepada model-model perilaku
konsumen yang telah ada maka penelitian akan lebih mudah dilakukan
karena variabel-variabel terkait sudah teridentifikasi di dalam
model-model tersebut.
· Lembaga Perlindungan Konsumen
Tidak
pahamnya konsumen mengenai hak dan kewajibannya sebagai seorang
konsumen yang menggunakan barang dan atau jasa yang disediakan oleh
pelaku bisnis, sering kali menimbulkan permasalahan yang merugikan
konsumen. Kerugian dapat berupa kerugian fisik (kesehatan dan
keselamatan) maupun kerugian nonfisik yaitu uang. Sering kali konsumen
hanya pasrah setelah menerima perlakuan yang merugikan mereka, yang
disebabkan karena mereka tidak tahu bagaimana dan kepada siapa harus
mengadukan permasalahannya.
Perlindungan
konsumen ini tertuang dalam Undang-undang No.8 Tahun 1999 yang dikenal
dengan Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK), di mana secara jelas
diuraikan berbagai hal mengenai hak dan kewajiban konsumen dan pelaku
bisnis serta pihak-pihak yang terkait dalam program Perlindungan
Konsumen. Salah satu lembaga yang bergerak dalam perlindungan konsumen
ini adalah Yayasan lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang tujuan
utamanya adalah untuk membantu konsumen Indonesia agar tidak dirugikan
dalam mengonsumsi barang dan atau jasa.
· Globalisasi dan Perubahan Perilaku Konsumen
Globalisasi
menghilangkan batas-batas negara untuk mengonsumsi suatu produk atau
jasa. Teknologi informasi akan memudahkan konsumen untuk memperoleh
informasi yang terkait dengan perilaku konsumsi, produk, dan gaya hidup
di negara lain dan akan mempengaruhi perilaku konsumsinya sendiri.
Teknologi informasi juga mempengaruhi pelaku bisnis dalam hal penyebaran
informasi dan melakukan komunikasi dengan konsumen.
Sumber : http://massofa.wordpress.com/2008/02/02/perilaku-konsumen/
KONSEP PEMASARAN
Fokus pemasaran yang utama adalah menjadikan kebutuhan dan keinginan para konsumen. Filsafat pemasaran yang berorientasi ke konsumen dikenal sebagai konsep pemasaran. Asumsi pokok yang mendasari konsep pemasaran adalah jika perusahaan ingin meraih sukses maka perusahaan harus menentukan kebutuhan dan keinginan berbagai target pasar tertentu dan memberikan kepuasan yang diinginkan lebih baik dari pada pesaing. Konsep pemasaran didasarkan pada dasar pemikiran bahwa pemasar harus membuat apa yang dapat dijualnya, dari pada berusaha menjual apa yang telah dibuatnya. Konsep penjualan berfokus pada kebutuhan penjual, sedangkan konsep pemasaran berfokus pada kebutuhan pembeli.
RUANG LINGKUP PERILAKU KONSUMEN
Studi perilaku konsumen terpusat pada cara individu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha) guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan konsumsi. Hal ini mencakup apa yang mereka beli, mengapa mereka membeli, kapan mereka membeli, dimana mereka membeli, seberapa sering mereka membeli, dan seberapa sering mereka menggunakannya.
Di samping mempelajari pemakaian konsumen dan evaluasi pasca-pembelian produk yang mereka beli, para peneliti konsumen juga tertarik untuk mengetahui cara individu membuang produk. Dengan tujuan adalah bahwa mereka harus menyesuaikan produksi mereka dengan kekerapan konsumen membeli penggantinya.
PERILAKU KONSUMEN BERAKAR PADA LINTAS DI SIPLIN ILMU PENGETAHUAN
Perilaku konsumen merupakan cabang antar ilmu pengetahuan, yaitu didasarkan pada berbagai konsep mengenai orang yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan dalam disiplin ilmu yang sangat berbeda. Teori-teori awal mengenai perilaku konsumen didasarkan pada teori ekonomi, dengan pendapat bahwa individu bertindak sacara rasional untuk memaksimumkan kekayaan, keuntungan (kepuasan) mereka dalam memberi barang dan jasa.
MODEL SEDERHANA PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN
Proses pengambilan keputusan dapat dipandang sebagai tiga tahap yang berbeda namun memiliki hubungan satu sama lain diantaranya:
1) Tahap Input
Merupakan tahap yang mempengaruhi pengenalan konsumen terhadap kebutuhan atas produk dan terdiri dari dua sumber informasi utama, yaitu:
Fokus pemasaran yang utama adalah menjadikan kebutuhan dan keinginan para konsumen. Filsafat pemasaran yang berorientasi ke konsumen dikenal sebagai konsep pemasaran. Asumsi pokok yang mendasari konsep pemasaran adalah jika perusahaan ingin meraih sukses maka perusahaan harus menentukan kebutuhan dan keinginan berbagai target pasar tertentu dan memberikan kepuasan yang diinginkan lebih baik dari pada pesaing. Konsep pemasaran didasarkan pada dasar pemikiran bahwa pemasar harus membuat apa yang dapat dijualnya, dari pada berusaha menjual apa yang telah dibuatnya. Konsep penjualan berfokus pada kebutuhan penjual, sedangkan konsep pemasaran berfokus pada kebutuhan pembeli.
RUANG LINGKUP PERILAKU KONSUMEN
Studi perilaku konsumen terpusat pada cara individu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha) guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan konsumsi. Hal ini mencakup apa yang mereka beli, mengapa mereka membeli, kapan mereka membeli, dimana mereka membeli, seberapa sering mereka membeli, dan seberapa sering mereka menggunakannya.
Di samping mempelajari pemakaian konsumen dan evaluasi pasca-pembelian produk yang mereka beli, para peneliti konsumen juga tertarik untuk mengetahui cara individu membuang produk. Dengan tujuan adalah bahwa mereka harus menyesuaikan produksi mereka dengan kekerapan konsumen membeli penggantinya.
PERILAKU KONSUMEN BERAKAR PADA LINTAS DI SIPLIN ILMU PENGETAHUAN
Perilaku konsumen merupakan cabang antar ilmu pengetahuan, yaitu didasarkan pada berbagai konsep mengenai orang yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan dalam disiplin ilmu yang sangat berbeda. Teori-teori awal mengenai perilaku konsumen didasarkan pada teori ekonomi, dengan pendapat bahwa individu bertindak sacara rasional untuk memaksimumkan kekayaan, keuntungan (kepuasan) mereka dalam memberi barang dan jasa.
MODEL SEDERHANA PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN
Proses pengambilan keputusan dapat dipandang sebagai tiga tahap yang berbeda namun memiliki hubungan satu sama lain diantaranya:
1) Tahap Input
Merupakan tahap yang mempengaruhi pengenalan konsumen terhadap kebutuhan atas produk dan terdiri dari dua sumber informasi utama, yaitu:
- Usaha pemasaran perusahaan (produk itu sendiri, harganya, promosi dan dimana ia dijual),
- Pengaruh sosiologis eksternal atas konsumen (keluarga, teman-teman, tetangga, sumber informal). Hal ini merupakan input yang mungkin mempengaruhi apa yang dibeli konsumen dan bagaimana mereka menggunakan apa yang mereka beli.
2) Tahap Proses
Merupakan tahap yang memfokuskan pada cara konsumen mengambil keputusan. Berbagai faktor psikologis yang melekat pada setiap individu, mempengaruhi input dari luar pada tahap input mempengaruhi pengenalan konsumen terhadap kebutuhan, pencarian informasi sebelum pembelian, dan evaluasi terhadap berbagai alternative.
3) Tahap Output
Merupakan pengambilan konsumen terdiri dari dua macam kegiatan setelah pengambilan keputusan yang berhubungan erat dengan perilaku membeli dan evaluasi setelah membeli. Percobaan merupakan tahap penyelidikan pada perilaku pembelian, yakni konsumen menilai produk melalui pemakaian langsung pembelian ulang biasanya menandakan penerimaan akan produk.
ETIKA PEMASARAN
Penilitian-penelitian mengenai etika pemasaran biasanya memusatkan perhatian pada berbagai praktik pemasar. Studi mengenai filsafat etika mengemukakan dua kelompok teori yang berbeda yaitu:
Merupakan tahap yang memfokuskan pada cara konsumen mengambil keputusan. Berbagai faktor psikologis yang melekat pada setiap individu, mempengaruhi input dari luar pada tahap input mempengaruhi pengenalan konsumen terhadap kebutuhan, pencarian informasi sebelum pembelian, dan evaluasi terhadap berbagai alternative.
3) Tahap Output
Merupakan pengambilan konsumen terdiri dari dua macam kegiatan setelah pengambilan keputusan yang berhubungan erat dengan perilaku membeli dan evaluasi setelah membeli. Percobaan merupakan tahap penyelidikan pada perilaku pembelian, yakni konsumen menilai produk melalui pemakaian langsung pembelian ulang biasanya menandakan penerimaan akan produk.
ETIKA PEMASARAN
Penilitian-penelitian mengenai etika pemasaran biasanya memusatkan perhatian pada berbagai praktik pemasar. Studi mengenai filsafat etika mengemukakan dua kelompok teori yang berbeda yaitu:
- Teori Teleologi, berkaitan dengan nilai moral atas perilaku yang ditentukan besarnya nilai tersebut berdasarkan akibatnya.
- Teori Deontologi, berhubungan dengan metode dan maksud yang terkandung dalam perilaku tertentu.
ETIKA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Lingkungan perusahaan dan falsafah perusahaan merupakan faktor yang menentukan perilaku yang etis para karyawan perusahaan. Banyak perusahaan yang telah menyusun kode etik yang jelas untuk menentukan cara pengambilan keputusan di seluruh organisasi.
Perusahaan pada umumnya mengakui bahwa kegiatan yang bertanggung jawab secara sosial memperbaiki citra perusahaan dimata para konsumen, pemegang saham, masyarakat keuangan, dan publik terkait lainnya. Dengan cara demikian, bentuk bisnis yang baik, yang menghasilkan citra yang baik, dan akhirnya meningkatkan penjulan.
KONSEP PEMASARAN YANG MEMPERHATIKAN KEPENTINGAN MASYARAKAT
Konsep ini menghendaki agar semua pemasar menaati prinsi-prinsip tanggung jawab sosial dalam memasarkan barang dan jasa mereka yaitu, mereka harus berusaha memuaskan kebutuhan dan keinginan berbagai pasar targetnya dengan cara melindunginya dan meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat secara keseluruhan.
Hambatan yang serius untuk memperluas pelaksanaan konsep pemasaran yang memperhatikan kepentingan masyarakat ini adalah orientasi jangka pendek yang diatur oleh para manajer bisnis atas langkah yang diambil untuk meningkatkan pangsa pasar dan memperoleh laba dengan cepat.
Lingkungan perusahaan dan falsafah perusahaan merupakan faktor yang menentukan perilaku yang etis para karyawan perusahaan. Banyak perusahaan yang telah menyusun kode etik yang jelas untuk menentukan cara pengambilan keputusan di seluruh organisasi.
Perusahaan pada umumnya mengakui bahwa kegiatan yang bertanggung jawab secara sosial memperbaiki citra perusahaan dimata para konsumen, pemegang saham, masyarakat keuangan, dan publik terkait lainnya. Dengan cara demikian, bentuk bisnis yang baik, yang menghasilkan citra yang baik, dan akhirnya meningkatkan penjulan.
KONSEP PEMASARAN YANG MEMPERHATIKAN KEPENTINGAN MASYARAKAT
Konsep ini menghendaki agar semua pemasar menaati prinsi-prinsip tanggung jawab sosial dalam memasarkan barang dan jasa mereka yaitu, mereka harus berusaha memuaskan kebutuhan dan keinginan berbagai pasar targetnya dengan cara melindunginya dan meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat secara keseluruhan.
Hambatan yang serius untuk memperluas pelaksanaan konsep pemasaran yang memperhatikan kepentingan masyarakat ini adalah orientasi jangka pendek yang diatur oleh para manajer bisnis atas langkah yang diambil untuk meningkatkan pangsa pasar dan memperoleh laba dengan cepat.
TEORI PERILAKU KONSUMEN
Perilaku
permintaan konsumen terhadap barang dan jasa akan dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya: pendapatan, selera konsumen, dan harga
barang, disaat kondisi yang lain tidak berubah (ceteris paribus).
Perilaku konsumen ini didasarkan pada Teori Perilaku Konsumen yang
menjelaskan bagaimana seseorang dengan pendapatan yang diperolehnya,
dapat membeli berbagai barang dan jasa sehingga tercapai kepuasan
tertentu sesuai dengan apa yang diharapkannya.
PENDEKATAN PERILAKU KONSUMEN
Pendekatanuntuk mempelajariperilakukonsumen dalammengkonsumsisuatubarang:
1.Pendekatan Kardinal
2.Pendekatan Ordinal
1.) Pendekatan Kardinal
- Kepuasan konsumsi dapat diukur dengan satuan ukur.
- Makin banyak barang dikonsumsi makin besar kepuasan
- Terjadi hukum The law of deminishing Marginal Utility pada tambahan kepuasan setiap satu satuan.Setiap tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap unit tambahan konsumsi semakin kecil.( Mula – mula kepuasan akan naik sampai dengan titik tertentu atau saturation point tambahan kepuasan akan semakin turun ).Hukum ini menyebabkan terjadinya Downward sloping MU curva. Tingkat kepuasan yang semakin menurun ini dikenal dengan hukum Gossen.
- Tambahan
kepuasan untuk tambahan konsumsi 1 unit barang bisa dihargai
dengan uang, sehingga makin besar kepuasan makin mahal harganya.
Jika konsumen memperoleh tingkat kepuasan yang besar maka dia akan
mau membayar mahal, sebaliknya jika kepuasan yang dirasakan
konsumen redah maka dia hanya akan mau membayar dengan harga murah.
Pendekatan kardinal biasa disebut sebagai Daya guna marginal.
2.) Pendekatan Ordinal
Kelemahan
pendekatan kardinal terletak pada anggapan yang digunakan bahwa
kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat diukur dengan satuan
kepuasan. Pada kenyataannya pengukuran semacam ini sulit
dilakukan.Pendekatan ordinal mengukur kepuasan konsumen dengan angka
ordinal (relatif).Tingkat kepuasan konsumen dengan menggunakan kurva
indiferens(kurva yg menunjukkan tingkat kombinasi jumlah barang yang
dikonsumsi yang menghasilkan tingkat kepuasan yang sama).
Ciri-ciri kurva indiferens:
1.Mempunyai
kemiringan yang negatif (konsumen akan mengurangi konsumsi barang yg
satu apabila ia menambah jumlah barang lain yang di konsumsi)
2.Cembung
ke arah titik origin, menunjukkan adanya perbedaan proporsi jumlah yang
harus ia korbankan untuk mengubah kombinasi jumlah masing-masing barang
yang dikonsumsi (marginal rate of substitution)
3.Tidak saling berpotongan, tidak mungkin diperoleh kepuasan yang sama pada suatu kurva indiferens yang berbeda
Perbedaan antara pendekatan kardinal dengan ordinal
Pandangan antara besarnya utility menganggap bahwa besarnya utiliti
dapat dinyatakan dalam bilangan/angka. Sedangkan analisis ordinal
besarnya utility dapat dinyatakan dalaml bilangan/angka.
Analisis cardinal mengunakan alat analisis yang dinamakan marginal
utiliy(pendekatan marginal). Sedangkan analisis ordinal menggunakan
analisis indifferent curve atau kurva kepuasan sama .
Macam-macam elastisitas
Asumsi
dalam elastisitas adalah perubahan harga akan mempengaruhi perubahan
permintaan. Harga di sini tidak terbatas dengan harga barang tersebut
akan tetapi juga harga barang lainnya. Pada keadaan normal, apabila
harga sebuah mobil merk X turun, maka permintaan akan kendaraan tersebut
akan meningkat. Pada kejadian yang sama bila harga pesaing mobil merk X
naik, maka hal ini dapat menyebabkan permintaan mobil merk X akan naik.
Mobil pesaing ini disebut barang subtitusi. Di samping itu bila harga
barang pelengkap/komplementer (misalkan bahan bakar) turun maka
permintaan mobil merk X juga akan naik.
Elastistas silangElastisitas silang adalah efek atas perubahan permintaan atau penawaran dari satu barang sebagai akibat dari perubahan dalam sesuatu yang berkaitan dengan produk lain berapa banyak perubahan harga satu produk yang akan mengubah volume penjualan lain.
Elastisitas harga silang dari produk A dengan produk B adalah:
(Q A / T A) / (ΔP B / P B)
dimana
T A adalah kuantitas penjualan A
Q A adalah perubahan jumlah A dijual
P B adalah harga B
ΔP B adalah perubahan harga B.
Sebuah elastisitas silang tersebut dapat positif atau negatif.. Jika dua barang komplementer maka kenaikan harga satu akan mengurangi permintaan untuk keduanya.. Jika mereka pengganti (misalnya, alam dan karet sintetis) kenaikan harga satu akan meningkatkan permintaan untuk yang lain.
Elastisitas pendapatan
Penghasilan elastisitas mengukur seberapa sensitif penjualan suatu yang baik untuk perubahan pendapatan konsumen: Hal ini:
(Δ Q / T) / (Δ Y / Y)
Dimana: Q = adalah kuantitas yang diminta
Y = adalah pendapatan, dan
Δ = memiliki arti yang biasa untuk menunjukkan perubahan.
elastisitas Penghasilan mengarah pada efek pendapatan , dan klasifikasi barang sebagai inferior
atau normal. Pendapatan elastisitas lebih besar dari satu juga telah
digunakan untuk mengklasifikasikan barang sebagai kemewahan daripada
kebutuhan. Alasan di balik kedua adalah bahwa jika orang tidak dapat
mengurangi konsumsi mereka yang baik sesuai dengan pendapatan mereka,
maka harus (kepada mereka) keharusan.. Perlu diketahui bahwa (seperti teori ekonomi lebih mirip) hanya penilaian dari jumlah konsumen..
Itulah sebabnya, dengan kriteria ini, tembakau (atau heroin dalam hal
ini) adalah suatu keharusan: kebenaran ini adalah di luar cakupan
pembahasan kita di sini.
PERILAKU PRODUSEN
Teori Produsen dan Fungsinya
produksi dapat kita lihat dimana saja,Yang dimaksud dengan teori produksi adalah kegiatan yang membuat barang-barang,produksi juga sangat berkaitan dengan nilai guna suatu barang.Di dalam produksi terdapat proses produksi tertentu yang harus dijalani sehingga bias menghasilkan barang yang berguna,secara sederhana prose situ digambarkan dibawah ini :
Di dalam menganalisis teori produksi, kita mengenal 2 hal:
- Produksi jangka pendek
Dalam
membahas teori produksi kita perlu membedakan pengertian jangka panjang
dan jangka pendek.Jangka pendek dan jangka panjang tidak terkait dengan
lamanya waktu yang digunakan dalam proses produksi.Produksi dalam
jangka pendek bararti terdapat satu factor produksi yang bersifat
tetap,sedangkan factor produksi yang lainnya bersifat
variable(berubah-ubah).produksi dalam jangka panjang berarti semua
factor produksi yang digunakan bersifat variable(berubah-ubah).
Dalam teori ekonomi, setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan fisik atau teknis antara jumlah faktor-faktor produksi yang dipergunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa memperhatikan harga-harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga produk. Secara matematis fungsi produksi tersebut dapat dinyatakan:
Y = f (X1, X2, X3, ……….., Xn)
Dimana Y = tingkat produksi (output) yang dihasilkan dan X1, X2, X3, ……, Xn adalah berbagai faktor produksi (input) yang digunakan. Fungsi ini masih bersifat umum, hanya biasa menjelaskan bahwa produk yang dihasilkan tergantung dari faktor-faktor produksi yang dipergunakan, tetapi belum bias memberikan penjelasan kuantitatif mengenai hubungan antara produk dan faktor-faktor produksi tersebut. Untuk dapat memberikan penjelasan kuantitatif, fungsi produksi tersebut harus dinyatakan dalam bentuknya yang spesifik, seperti misalnya:
a) Y = a + bX ( fungsi linier)
b) Y = a + bX – cX2 ( fungsi kuadratis)
c) Y = aX1bX2cX3d ( fungsi Cobb-Douglas), dan lain-lain.
b) Y = a + bX – cX2 ( fungsi kuadratis)
c) Y = aX1bX2cX3d ( fungsi Cobb-Douglas), dan lain-lain.
Dalam teori ekonomi, fungsi produksi diasumsikan tunduk pada suatu hukum yang disebut :The Law of Diminishing Returns (Hukum Kenaikan Hasil Berkurang).
“Hukum ini menyatakan bahwa apabila penggunaan satu macam input ditambah sedang input-input yang lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahansatu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik, tetapi kemudian seterusnya menurun jika input tersebut terus ditambahkan”
“Hukum ini menyatakan bahwa apabila penggunaan satu macam input ditambah sedang input-input yang lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahansatu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik, tetapi kemudian seterusnya menurun jika input tersebut terus ditambahkan”
Dari hukum tersebut dapat disimpulkan bahwa tahapan produksi seperti yang dinyatakan
dalam The Law of Diminishing Returns dapat dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu :
a. produksi total dengan increasing returns,
b. produksi total dengan decreasing returns, dan
c. produksi total yang semakin menurun.
Disamping analisis tabulasi dan analisis grafis mengenai hubungan antara produk total, produk rata-rata, dan produk marginal dari suatu proses produksi seperti diatas, dapat pula
digunakan analisis matematis. Sebagai contoh, misalnya dipunyai fungsi produksi :
dalam The Law of Diminishing Returns dapat dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu :
a. produksi total dengan increasing returns,
b. produksi total dengan decreasing returns, dan
c. produksi total yang semakin menurun.
Disamping analisis tabulasi dan analisis grafis mengenai hubungan antara produk total, produk rata-rata, dan produk marginal dari suatu proses produksi seperti diatas, dapat pula
digunakan analisis matematis. Sebagai contoh, misalnya dipunyai fungsi produksi :
Y = 12X2 – 0,2 X3,
dimana :
Y = produk
X = faktor produksi.
Y = produk
X = faktor produksi.
- Produksi jangka panjang
Sebagaimana
telah dijelaskan,produksi dalam jangka panjang tidak terkait dengan
jangka waktu proses produksi,tetapi lebih kepada sifat factor produkdi
yang digunkan . Dalam jangka panjang semua factor produksi yang
digunakan bersifat variable atau berubah-ubah.untuk mempelajari produksi
dalam jangka panjang kiata akan mempelajari kurva isoquant dan jumlah
produk optimal.
a.) Isoquant atau Isoproduk
Kurva
isokuant atau isoproduk adalah kurva tempat kedudukan titik-titik yang
menunjukan kombinasi dua factor produksi untuk menghasilkan tingkat
produksi yang sama.
b.) Produksi optimal
Konsep efisiensi dari aspek ekonomis dinamakan konsep efisiensi ekonomis atau efisiensi harga. Dalam teori ekonomi produksi, pada umumnya menggunakan konsep ini. Dipandang dari konsep efisiensi ekonomis, pemakaian faktor produksi dikatakan efisien apabila ia dapat menghasilkan keuntungan maksimum. Untuk menentukan tingkat produksi optimum menurut konsep efisiensi ekonomis, tidak cukup hanya dengan mengetahui fungsi produksi. Ada syarat lagi yang harus diketahui, rasio harga harga input-output. Secara matematis, syarat tersebut adalah sebagai berikut. Keuntungan (p) dapat ditulis : p = PY.Y -Px.X, di mana Y = jumlah produk;
Konsep efisiensi dari aspek ekonomis dinamakan konsep efisiensi ekonomis atau efisiensi harga. Dalam teori ekonomi produksi, pada umumnya menggunakan konsep ini. Dipandang dari konsep efisiensi ekonomis, pemakaian faktor produksi dikatakan efisien apabila ia dapat menghasilkan keuntungan maksimum. Untuk menentukan tingkat produksi optimum menurut konsep efisiensi ekonomis, tidak cukup hanya dengan mengetahui fungsi produksi. Ada syarat lagi yang harus diketahui, rasio harga harga input-output. Secara matematis, syarat tersebut adalah sebagai berikut. Keuntungan (p) dapat ditulis : p = PY.Y -Px.X, di mana Y = jumlah produk;
PY = harga produk;
X = faktor produksi;
Px = harga factor produksi.
X = faktor produksi;
Px = harga factor produksi.
Sumber :
4. Buku yudistira sma kelas X
Tidak ada komentar:
Posting Komentar